Mulai 2026, wacana penghentian insentif mobil listrik (EV) mulai menguat. Kebijakan ini jadi sinyal bahwa pemerintah ingin menggeser fokus: dari sekadar mendorong konsumsi EV impor, ke penguatan produksi mobil nasional yang benar-benar dibuat di dalam negeri.
Masalahnya cukup jelas. Insentif selama ini memang bikin harga mobil listrik lebih terjangkau, tapi dampaknya ke industri lokal masih terbatas. Banyak EV yang beredar masih mengandalkan impor, sementara rantai produksi dalam negeri belum sepenuhnya terbentuk. Negara keluar biaya, tapi nilai tambahnya belum maksimal.
Di sisi lain, industri otomotif nasional butuh dorongan serius. Bukan cuma soal mobil listrik, tapi juga penguasaan teknologi, tenaga kerja, dan komponen lokal. Kalau terus bergantung pada insentif, industri bisa “manja” dan sulit berkembang mandiri.
Solusinya, pemerintah mulai mengalihkan strategi: fokus ke produksi mobil nasional dengan TKDN tinggi, termasuk EV buatan lokal. Insentif bukan dihapus begitu saja, tapi dialihkan ke sektor hulu—pabrik, riset, baterai, dan ekosistem pendukung.
Buat konsumen, mungkin harga EV tak semurah sekarang. Tapi dalam jangka panjang, langkah ini bisa melahirkan mobil nasional yang kompetitif, terjangkau, dan benar-benar “buatan Indonesia”. Otomotif kita bukan cuma jadi pasar, tapi jadi pemain.
Leave a comment