Ada satu nama yang dulu bikin jantung petrolhead Indonesia berdebar “Sirkuit Ancol”. Bukan sekadar lintasan balap, tapi saksi era ketika motorsport nasional punya panggung besar di tengah kota. Hari ini, namanya nyaris cuma hidup di arsip dan cerita senior.
Kita bukan hanya kehilangan sirkuit, tapi juga kehilangan ingatan kolektif. Sirkuit Ancol dulu jadi rumah buat balap mobil, motor, dan mimpi para pembalap lokal. Suaranya bising, atmosfernya mentah, dan karakternya jujur. Nggak steril, tapi penuh nyawa.
Masalahnya, ketika Ancol hilang, penggantinya bukan sirkuit baru yang setara. Yang ada justru ruang publik yang makin rapi, tapi miskin identitas otomotif. Balap lalu dipinggirkan, dianggap gangguan, bukan budaya.
Sirkuit Ancol mengajarkan satu hal penting: motorsport butuh ruang, bukan sekadar izin. Selama kita terus menghapus jejak sirkuit legendaris tanpa meninggalkan warisan, kita bukan sedang maju tapi kita sedang melupakan akar.
Leave a comment