Home Automotive Car Penjualan EV Global Rekor September 2025, Indonesia Melambat
CarNews

Penjualan EV Global Rekor September 2025, Indonesia Melambat

Share
Share

EV Global: Rekor Baru di September 2025

  • Bulan September 2025 menandai “revolusi” global kendaraan listrik (EV). Menurut data Rho Motion, penjualan EV global (termasuk BEV + PHEV) mencapai ≈ 2,1 juta unit — rekor tertinggi bulanan sepanjang sejarah.
  • Angka ini naik sekitar 26% yoy dibanding September 2024.
  • Jika melihat kumulatif tahun 2025 sampai September, total EV yang terjual secara global mencapai ≈ 14,7 juta unit, meningkat sekitar 26% dibanding periode yang sama tahun lalu.
  • Distribusi regional memperlihatkan dominasi besar pasar EV di kawasan seperti Tiongkok, Eropa, dan Amerika Utara.

Kesimpulan pendekatan global: permintaan EV global melonjak kuat — adopsi EV makin meluas, produsen menawarkan lebih banyak model, dan teknologi baterai serta insentif mendukung percepatan.


Situasi di Indonesia: Ada Pertumbuhan, Tapi September 2025 Menunjukkan Penurunan

  • Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pada bulan September 2025 distribusi mobil listrik (wholesale) di Indonesia hanya mencapai 4.039 unit.
  • Angka ini turun 36,3% dibanding Agustus 2025 (6.341 unit).
  • Padahal sebelumnya, pasar EV di Indonesia menunjukkan pertumbuhan: dalam kuartal I 2025, total EV (BEV + PHEV + hybrid) naik ~ 43,4% yoy — dari 19.260 unit menjadi 27.616 unit.
  • Bahkan sepanjang Januari–Agustus 2025, ada kemajuan dibanding tahun sebelumnya.

Dengan demikian, meskipun secara kumulatif tahun 2025 pasar EV di Indonesia bertumbuh, penurunan dramatik pada September menunjukkan ada dinamika yang memperlambat akselerasi.


Mengapa Terjadi Kesenjangan: Global Tancap Gas, RI Melambat

Beberapa faktor penghambat utama adopsi EV di Indonesia dibandingkan tren global:

• Infrastruktur pengisian daya belum memadai

  • Banyak konsumen di Indonesia masih cemas soal “jangkauan berkendara” dan “ketersediaan pengisian” — survei menunjukkan 75% calon pembeli khawatir jarak tempuh, 51% soal waktu pengisian, serta 46% khawatir soal umur baterai.
  • Distribusi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) masih belum merata di seluruh wilayah Indonesia — hal ini mempersempit kepercayaan publik untuk beralih ke EV.

• Harga dan biaya awal EV relatif tinggi dibanding mobil konvensional

  • Biaya produksi EV, terutama baterai, masih cukup tinggi — membuat harga jual EV cenderung lebih mahal daripada mobil mesin konvensional sekelas.
  • Bagi banyak konsumen Indonesia, perbedaan harga dan biaya kepemilikan (termasuk ketidakpastian masa pakai baterai dan after-sales) menjadi pertimbangan berat.

• Ketidakpastian kebijakan dan insentif jangka panjang

  • Meskipun di awal 2025 ada insentif — seperti pembebasan PPnBM dan PPN untuk EV — kebijakan insentif impor EV (CBU) dikabarkan tidak diperpanjang setelah Desember 2025.
  • Ketidakpastian kebijakan ini bisa membuat konsumen ragu, terutama bagi mereka yang mempertimbangkan membeli EV dalam waktu dekat.

• Persepsi dan kesadaran konsumen masih terbatas

  • Banyak calon pembeli EV di Indonesia masih belum yakin dengan keunggulan EV dalam jangka panjang — meskipun ada kesadaran akan isu lingkungan, biaya dan kemudahan operasional tetap menjadi prioritas.
  • Masih ada sebagian yang skeptis untuk beralih karena anggapan “ribet”: soal pengisian daya, perawatan baterai, jarak tempuh vs kebutuhan mobilitas harian.

Peluang dan PR untuk Indonesia

  • Data global menunjukkan bahwa permintaan EV bisa sangat cepat meningkat jika didukung regulasi, insentif, dan infrastruktur — artinya Indonesia memiliki potensi besar untuk ikut dalam tren ini.
  • Namun, penurunan di bulan September 2025 adalah sinyal bahwa “lokal faktor” (infrastruktur, harga, kebijakan, persepsi) masih kerap menjadi penghambat utama — terutama jika insentif jangka panjang tidak dipastikan.
  • Untuk mempercepat adopsi EV di Indonesia, diperlukan kombinasi kebijakan jangka panjang (insentif, regulasi, dukungan lokal), pembangunan infrastruktur charging secara merata, serta edukasi kuat kepada masyarakat tentang keuntungan EV dibanding mobil konvensional.

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *