Konflik militer antara Amerika Serikat–Israel dan Iran yang pecah pada 28 Februari 2026 mulai merembet ke dunia motorsport internasional. Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah yang tidak menentu membuat sejumlah negara menutup diri, hal tersebut berdampak pada mobilitas tim, kru, dan pembalap.
Formula 1 (F1) dan World Endurance Championship (WEC) merasakan efek dari kejadian tersebut.
Dampak pertama terjadi di Sirkuit Internasional Bahrain. Pirelli yang dijadwalkan menggelar tes pengembangan ban basah bersama Mercedes dan McLaren terpaksa membatalkan agenda tersebut demi alasan keselamatan.

Di saat yang sama, kondisi paddock F1 yang sedang bersiap terbang ke Australia untuk seri pembuka musim menjadi terganggu akibat penutupan sejumlah wilayah dan bandara Internasional.
Bos GP Australia, Travis Auld, mengakui adanya penyesuaian besar dalam 48 jam terakhir. Meski begitu, penyelenggara memastikan seluruh tim dan pembalap tetap dijadwalkan tiba tepat waktu sehingga balapan akhir pekan ini tidak terganggu.
Berbeda dengan F1, WEC justru punya agenda dalam waktu dekat di Timur Tengah. Seri pembuka musim dijadwalkan berlangsung di Qatar akhir Maret, dengan sesi Prologue pada 22–23 Maret.
Laporan mengenai ledakan di Doha yang lokasinya tidak jauh dari Sirkuit Losail membuat pihak WEC meningkatkan koordinasi dengan otoritas setempat.
Jika eskalasi konflik terus berlanjut, bukan tidak mungkin jadwal WEC akan mengalami perubahan.

Leave a comment