Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) di Jakarta digadang-gadang sebagai solusi modern untuk menekan pelanggaran lalu lintas. Kamera otomatis, tanpa tatap muka, tanpa “damai di tempat”. Secara konsep, ini langkah maju. Tapi pertanyaannya: apakah sudah cukup efektif?
Di satu sisi, ETLE berhasil bikin pengendara lebih waspada. Banyak yang kini mikir dua kali sebelum nerobos lampu merah atau main ponsel saat nyetir. Data tilang elektronik juga lebih rapi dan minim konflik di lapangan. Transparansi naik, potensi pungli turun dan ini poin plus yang nyata.
Namun di sisi lain, efektivitasnya belum merata. Kamera ETLE masih terkonsentrasi di titik tertentu, sementara pelanggaran di jalan-jalan kecil tetap liar. Belum lagi masalah data kendaraan yang belum mutakhir, pelat palsu, hingga pengendara yang cuek karena merasa “tak terlihat kamera”.
ETLE bukan solusi instan. Ia bekerja paling efektif jika dibarengi edukasi, penegakan hukum yang konsisten, dan infrastruktur jalan yang layak. Teknologi bisa membantu, tapi budaya tertib tetap kuncinya.
Leave a comment