Kota sebenarnya tidak pernah dirancang hanya untuk dilewati dengan kecepatan tinggi di balik kaca mobil atau helm motor. Ada sudut-sudut sejarah yang baru bisa benar-benar terasa “hidup” ketika kita melambat. Melalui garisan feed Human On Wheels, perjalanan gowes kali ini membawa kita menyusuri sebuah kawasan bersejarah di Jakarta Pusat yang sarat akan memori dan cerita masa lalu: Kwitang.
Mengayuh sepeda di sepanjang jalanannya bukan sekadar aktivitas olahraga pagi atau sore, melainkan sebuah cara untuk merebut kembali ruang kota (reclaim the street) dan membaca potongan-potongan sejarah yang perlahan tergerus zaman. Dari aroma mentega toko roti tertua hingga lembaran buku tua yang penuh nostalgia, inilah Kwitang dari atas pedal sepeda.
1. Maison Weiner: Aroma Roti Legend Sejak 1936
Kayuhan pedal diawali dengan aroma manis gurih yang merebak di udara saat melintas di daerah Keramat II. Di sinilah berdiri Maison Weiner Cake & Bakery, toko roti tertua di Jakarta yang didirikan oleh Lee Liang Mey sejak tahun 1936.
Menyandarkan sepeda di depan bangunan bernuansa klasik ini terasa seperti melangkah mundur ke era Batavia. Mencicipi sepotong sourdough atau roti ontbijtkoek khas Eropa di sini bukan sekadar sarapan setelah lelah mengayuh, melainkan menikmati resep otentik yang bertahan menembus batas zaman dan generasi.

2. Lapak Buku Bekas Kwitang & Nostalgia Ada Apa Dengan Cinta?
Membahas Kwitang rasanya mustahil melepaskannya dari identitas sebagai pusat literasi dan perburuan buku tua. Mengayuh lebih lambat di kawasan ini membawa ingatan kita pada adegan ikonik film Ada Apa Dengan Cinta? (2002), saat Rangga mengajak Cinta berburu buku bekas di lapak Kwitang.
Meski deretan lapak pedagang kaki lima kini sudah jauh berkurang dibanding masa jayanya, aura nostalgianya tidak pernah benar-benar hilang. Di antara tumpukan majalah jadul, novel langka, dan buku-buku cetakan lama, Kwitang tetap menyimpan romansa tersendiri bagi siapa saja yang ingin bersentuhan langsung dengan jejak pikiran orang-orang dari masa lalu.

3. Toko Buku Gunung Agung: Monumen Sejarah Literasi Indonesia
Tak jauh dari sana, ada landmark lain yang memegang peranan penting dalam sejarah perbukuan nasional: Toko Buku Gunung Agung. Didirikan oleh Haji Masagung pada tahun 1953, tempat ini berawal dari kios sederhana di Kwitang sebelum tumbuh menjadi salah satu pilar industri penerbitan dan toko buku terbesar di Indonesia.
Meskipun lanskap industri buku telah banyak berubah, melintas di depan gedungnya mengingatkan kita bahwa dari sudut Kwitang inilah semangat literasi dan pencerdasan bangsa pernah bergelora sangat hebat.

Merekam Kota di Atas Dua Roda
Bagi komunitas Human On Wheels, bersepeda bukan cuma tentang sejauh apa jarak yang ditempuh atau seberapa cepat pace kayuhan. Bersepeda adalah medium untuk berinteraksi langsung dengan kota, mendengarkan cerita lokal yang sering terlewatkan, dan mengapresiasi warisan budaya yang ada di sekitar kita.
Kwitang membuktikan bahwa setiap sudut jalan punya cerita untuk disampaikan. Kita hanya perlu melambat, mengayuh dengan santai, dan membiarkan kota itu sendiri berbicara.
Leave a comment