Ketika asap tebal Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mulai menyelimuti jalanan, pandangan mata berkurang drastis hanya dalam hitungan meter. Dada rasanya sesak, mata perih, dan bahaya kecelakaan mengintai di setiap sudut jalan. Siapa pun pasti ingin berdiam diri di rumah, menutup rapat jendela, dan bernapas dengan tenang.
Namun, realitas tak pernah sesederhana itu. Bagi banyak orang, mulai dari driver ojek online, kurir logistik, pedagang keliling, hingga pekerja harian. Berdiam diri di rumah adalah sebuah kemewahan yang tak mampu mereka beli. Asap memang berbahaya dan bisa mengintai nyawa, tapi perut yang kosong dan urusan dapur yang belum mengepul jauh lebih menakutkan.
Pada akhirnya, jalanan yang dipenuhi asap pekat terpaksa tetap ditempuh demi menyambung hidup.
Menjaga Diri di Tengah Kepungan Asap
Bagi kamu yang terpaksa harus beraktivitas dan berkendara di tengah kabut asap karhutla, keselamatan diri harus jadi prioritas utama. Berikut beberapa langkah pencegahan mandiri yang bisa kita lakukan:
- Pakai Masker Standard (Minimal N95): Masker kain biasa tidak cukup menahan partikel halus berukuran mikro dari asap karhutla. Gunakan masker N95 atau KN95 agar saluran pernapasan tetap terlindungi.
- Gunakan Helm Full-Face & Kacamata Pelindung: Asap pekat tidak hanya merusak paru-paru, tapi juga mengganggu penglihatan secara mendadak karena iritasi mata.
- Nyalakan Lampu Utama & Kurangi Kecepatan: Saat berkendara di tengah kabut asap, pastikan lampu kendaraan selalu menyala agar pengendara lain bisa melihat keberadaanmu. Jangan memaksakan diri melaju kencang saat jarak pandang sangat terbatas.
- Rutin Bersihkan Hidung dan Tenggorokan: Setelah seharian beraktivitas di luar, segera bilas wajah, bersihkan hidung dengan cairan saline, dan perbanyak konsumsi air putih untuk membantu tubuh mengeluarkan racun dari asap.

Langkah Penanggulangan yang Cepat dan Nyata
Selain pencegahan mandiri, penanggulangan dampak karhutla di tingkat tapak harus terus digencarkan demi meminimalkan korban jiwa:
- Posko Kesehatan Berjalan & Tempat Evakuasi Steril: Pemerintah lokal bersama relawan perlu mendirikan tempat perlindungan sementara (safe zone) yang dilengkapi air purifier dan pasokan oksigen medis gratis untuk masyarakat kelas bawah.
- Respon Cepat Tim Pemadam: Jalur-jalur vital perekonomian dan jalan raya utama harus diprioritaskan untuk pemadaman atau penyiraman intensif agar jarak pandang pengendara tidak terus memburuk.
Catatan Kritis: Jangan Biarkan Rakyat Bertaruh Nyawa Sendirian
Kondisi serba salah yang dialami para pekerja jalanan ini sebenarnya adalah cerminan dari masalah yang lebih besar. Karhutla bukan lagi fenomena alam yang datang tiba-tiba, melainkan bencana tahunan yang berulang dan sering kali dipicu oleh kelalaian manusia serta lemahnya pengawasan.
Pemerintah tidak bisa terus-menerus mengandalkan imbauan “di rumah saja” tanpa memberikan jaring pengaman sosial yang konkret bagi masyarakat terdampak. Imbauan semacam itu terasa hampa bagi mereka yang penghasilannya bergantung pada kilometer jalanan yang ditempuh setiap hari.
Penegakan hukum terhadap oknum atau korporasi pembakar lahan harus dilakukan secara tegas tanpa tebang pilih. Langkah mitigasi bencana dan edukasi pencegahan pun seharusnya disiapkan jauh sebelum musim kemarau tiba, bukan sekadar respons pemadam kebakaran ketika asap sudah telanjur mengepung pemukiman dan jalan raya.
Kesimpulan
Menembus kabut asap demi mencukupi kebutuhan keluarga adalah bentuk perjuangan yang luar biasa, namun tak seharusnya rakyat dibiarkan bertaruh nyawa saban hari. Selagi solusi mendasar belum sepenuhnya tuntas, pastikan kita tetap saling menjaga di jalanan, mengutamakan keselamatan, dan terus bersuara agar hak atas udara bersih bagi semua orang bisa terpenuhi.
Leave a comment