Home Automotive Motorbike Godspeed & Leather Jackets: Kisah The 59 Club, Komunitas Motor Paling Unik Abad ke-20
MotorbikeSocial

Godspeed & Leather Jackets: Kisah The 59 Club, Komunitas Motor Paling Unik Abad ke-20

Share
Share

Jika bicara soal subculture motor era 1960-an di Inggris, bayangan kita mungkin tak jauh dari perselisihan antara kaum Rocker dan Mod, balapan liar dari kafe ke kafe, serta stempel keonaran yang melekat pada anak muda pengguna Jaket Kulit. Namun di tengah reputasi jalanan yang keras itu, ada satu nama yang justru lahir dari tempat paling tak terduga: sebuah gereja.

Ini adalah kisah The 59 Club, sebuah klub motor Legendaris asal London yang digerakkan oleh seorang pastor bernama Romo Bill Shergold.

Awal Mula: Dari Klub Pemuda Gereja Menjadi Oase Kaum Rocker

Awalnya, The 59 Club didirikan pada tahun 1959 di Paddington, London, oleh Romo John Oates sebagai klub kegiatan pemuda gereja biasa. Namun, titik balik besarnya terjadi ketika Romo Bill Shergold bergabung dan mengambil alih kepemimpinan di awal 1960-an.

Romo Bill, yang sendiri merupakan seorang penggemar sepeda motor, melihat ada fenomena sosial yang mengkhawatirkan saat itu. Para pemuda penunggang motor—sering disebut Ton-Up Boys atau Rockers—dikucilkan oleh masyarakat dan media mainstream karena citra mereka yang liar. Banyak tempat umum menolak membiarkan mereka masuk.

Melihat hal tersebut, Romo Bill tidak melontarkan kritik atau penghakiman. Ia justru menaiki motor Triumph milik pribadinya dan mendatangi langsung tempat berkumpulnya para Rocker, salah satunya Ace Cafe yang terkenal di London.

Menjangkau Jalanan Tanpa Khotbah yang Menggurui

Langkah Romo Bill terbukti tepat. Ia mengundang anak-anak muda tersebut untuk datang ke gereja tempatnya bertugas, bukan untuk dipaksa beribadah, melainkan untuk berkumpul, mendengarkan musik rock ‘n’ roll, meminum teh, dan memperbaiki sepeda motor mereka bersama-sama.

Sikap terbuka dan ramah ini membuat para Rocker tergerak. Pada Mei 1962, Romo Bill menggelar kebaktian khusus pengguna sepeda motor yang dihadiri oleh puluhan penunggang motor jaket kulit. Kejadian ini menjadi sorotan media nasional dan mengubah wajah The 59 Club secara permanen.

Beberapa hal penting yang membuat The 59 Club begitu berdampak pada era 1960-an:

  • Satu-satunya Tempat Aman: The 59 Club menyediakan ruang bagi para penunggang motor untuk berkumpul tanpa stempel negatif dari masyarakat sekitar.
  • Misi Kemanusiaan: Selain tempat berkumpul, klub ini aktif menggalang dana bantuan untuk korban kecelakaan lalu lintas dan mengedukasi anggotanya tentang keselamatan berkendara.
  • Keanggotaan Luas: Dalam hitungan tahun, keanggotaan klub ini melesat hingga mencapai belasan ribu anggota aktif yang tersebar di berbagai wilayah.

Warisan Kebudayaan Sepeda Motor Dunia

Di bawah bimbingan Romo Bill Shergold (yang kemudian dibantu oleh Romo Graham Hullett), The 59 Club tidak pernah memaksakan doktrin agama kepada para anggotanya. Landasan utama klub ini adalah persaudaraan, solidaritas, rasa saling menghormati, dan kecintaan pada dunia roda dua.

Lencana angka “59” berwarna hitam-putih milik klub ini akhirnya menjadi simbol budaya yang sangat dihormati di seluruh dunia, sejajar dengan ikon-ikon cafe racer era klasik lainnya.

Kisah The 59 Club menjadi bukti nyata bahwa semangat persaudaraan dunia motor bisa melintasi batas-batas formalitas sosial, dan bahwa petunjuk arah terbaik kadang datang dari seseorang yang bersedia turun langsung ke jalanan.

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *