Home News Pasar Domestik Melambat, TMMIN Ungkap Mengapa Industri Otomotif Indonesia Tetap Tangguh
NewsSocial

Pasar Domestik Melambat, TMMIN Ungkap Mengapa Industri Otomotif Indonesia Tetap Tangguh

Share
Share

Di tengah bayang-bayang perlambatan penjualan kendaraan di pasar domestik selama beberapa tahun terakhir, industri otomotif nasional dinilai masih memiliki fondasi dan daya tahan (resiliensi) yang sangat kuat. Hal tersebut ditegaskan oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).

Bob Azam, Wakil Presiden Direktur PT TMMIN, menjelaskan bahwa lesunya pasar lokal tidak serta-merta mencerminkan melemahnya fundamental industri otomotif Indonesia secara keseluruhan. Ada faktor penyelamat yang membuat roda industri ini tetap berputar kencang.

“Industri otomotif kita punya resiliensi yang bagus. Kita punya pasar ekspor yang mencapai 500.000 unit, dan ini sangat menolong di saat pasar domestik sedang melambat. Ditambah lagi, potensi pasar domestik kita sebenarnya tetap besar,” ujar Bob.

Tantangan Nyata: Industri Komponen “Berdarah-darah”

Meski industri secara umum dinilai tangguh berkat performa ekspor, Bob mengingatkan adanya lampu kuning di sektor hulu. Tantangan terbesar saat ini justru sedang dihadapi oleh para pelaku industri komponen lokal.

Perlu diketahui, industri komponen merupakan tulang punggung sektor otomotif karena menyumbang sekitar 75 persen dari rantai nilai (value chain) industri. Masalahnya, transisi teknologi kendaraan global bergerak lebih cepat daripada kesiapan struktur industri lokal.

  • Dominasi Komponen ICE: Saat ini, hampir 100 persen pabrik komponen di Indonesia dirancang untuk memproduksi kebutuhan kendaraan konvensional berbasis bensin/diesel (Internal Combustion Engine/ICE).
  • Belum Masuk Ekosistem EV: Industri komponen lokal belum banyak yang bertransformasi atau memiliki kapasitas untuk memproduksi komponen mobil listrik (EV).

Akibatnya terjadi ketimpangan pasar. Dari total penjualan sekitar 800.000 unit mobil baru di Indonesia, kini sekitar 200.000 unit sudah beralih ke kendaraan listrik.

Pergeseran ini otomatis menurunkan permintaan terhadap komponen ICE secara drastis. Di sisi lain, industri lokal belum menikmati kue pertumbuhan pasar EV karena rantai pasok komponen mobil listrik saat ini masih didominasi oleh negara lain. Kondisi inilah yang menurut Bob membuat sejumlah pabrik komponen lokal mulai “berdarah-darah”.

Butuh Kepastian Kebijakan dan Kolaborasi Lokal

Melihat situasi tersebut, TMMIN menekankan pentingnya kepastian arah kebijakan dari pemerintah. Selama ini, berbagai insentif masif lebih banyak difokuskan pada hilir atau penjualan unit kendaraan listrik saja.

Ke depan, fokus pemerintah dan pelaku industri harus bergeser pada strategi lokalisasi komponen masa depan agar menciptakan siklus yang positif (positive cycle).

“Yang harus dibicarakan secara serius ke depan adalah industri komponen apa yang akan dilokalisasi di Indonesia. Kemudian, bagaimana industri komponen baru tersebut bisa berkolaborasi dengan industri komponen yang sudah ada sekarang. Baru itu namanya positive cycle,” punggah Bob.

Melalui kolaborasi yang tepat antara pemain lama (ICE) dan investasi baru di bidang elektrifikasi, industri otomotif Indonesia diharapkan tidak hanya sekadar tangguh bertahan, tetapi juga mampu memimpin peta persaingan otomotif di kawasan regional.

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *