Pernah bayangkan keliling dunia sendirian di tahun 1970-an menggunakan sepeda motor kecil? Itulah yang dilakukan oleh Anne-France Dautheville, perempuan asal Prancis yang tercatat sebagai wanita pertama yang mengitari bumi sendirian dengan roda dua.
Di usianya yang kini sudah lansia, Anne-France mengenang kembali perjalanannya yang legendaris dengan penuh tawa. Kisah hebatnya dimulai bukan karena ia ingin mencari popularitas di media sosial (yang memang belum ada saat itu), melainkan karena rasa penasaran, jiwa bebas, dan keinginan untuk mendobrak batasan bagi perempuan.

Berawal dari Kemacetan Paris
Semuanya bermula pada Mei 1968 saat Paris dilanda demonstrasi besar-besaran. Agar bisa tetap berangkat kerja di agensi periklanan, Anne-France membeli sebuah moped (motor bebek kecil) 50cc. Di era itu, motor punya citra yang buruk dan identik dengan berandalan. Namun, ia tidak peduli. Perasaan bebas saat berkendara justru membuatnya jatuh cinta.
Merasa tidak bahagia dengan pekerjaannya, ia nekat mengundurkan diri. Pada tahun 1972, ia menjadi satu-satunya pengendara perempuan yang mengikuti reli motor Orion Raid dari Paris ke Iran sejauh ribuan kilometer menggunakan motor Moto Guzzi 750cc.
Melawan Rumor dengan Aksi Nyata
Sekembalinya dari Iran, dunia ternyata belum siap melihat pencapaian seorang perempuan. Muncul rumor tak sedap di Paris bahwa Anne-France berbohong dan selama ini hanya naik di dalam truk penolong.
Bukannya ciut, tuduhan itu justru membakar semangatnya. Marah karena diremehkan, ia memutuskan untuk membungkam para penggosip dengan melakukan hal yang jauh lebih ekstrem: keliling dunia sendirian.

Petualangan 12.500 Mil di Atas Kawasaki 125cc
Pada Juli 1973, di usia 29 tahun, Anne-France memulai perjalanannya dari Montreal, Kanada. Kali ini ia memilih motor yang jauh lebih ringan, yaitu Kawasaki 125cc. Selama setahun, ia menempuh jarak lebih dari 12.500 mil (sekitar 20.000 km) melintasi tiga benua.
Perjalanannya penuh warna:
- Kanada & Alaska: Ia sempat mengalami kecelakaan masuk ke parit karena tersenggol truk, namun setelah diobati, ia langsung tancap gas lagi.
- Jepang & India: Motornya sempat mogok di India karena salah pasang suku cadang saat di Tokyo, tapi ia justru menikmati waktu tunggunya seperti sedang berlibur di kolam renang hotel.
- Pakistan & Afghanistan: Di sini ia merasa sangat aman dan dihormati. Warga lokal menganggap perempuan yang bepergian sendiri sebagai sosok yang sakral. Ia bahkan disambut hangat di Afghanistan (salah satu negara favoritnya) sebelum negara tersebut dilanda perang panjang.
Perjalanan epik ini berakhir di Paris pada November 1973. Setelah berhasil menyelesaikan misinya, ia menulis buku keduanya yang berjudul Et J’ai Suivi le Vent (Dan Aku Mengikuti Angin). Sejak saat itu, ia merasa tidak ada lagi omongan orang yang bisa menjatuhkannya.

Warisan Sang Petualang
Anne-France terus bertualang ke berbagai belahan dunia, termasuk Amerika Selatan dan Australia, hingga akhirnya pensiun berkendara pada tahun 2012 setelah mengalami kecelakaan mobil. Kisah hidupnya yang ikonik bahkan sempat menjadi inspirasi bagi rumah mode ternama, Chloé, pada tahun 2016.
Pesan berharga dari Anne-France untuk kita semua sangat sederhana namun mendalam:
“Aku tidak bepergian menggunakan otakku, aku bepergian dengan hatiku. Dan tidak ada yang bisa menghentikanku, karena aku tidak terhentikan!”
Leave a comment