•   Story  
  • Ralph Teetor, Tunanetra ini Tak Tahu Penemuannya Jadi Cikal Bakal Mobil Self-driving


    “Keberadaan mobil dengan fitur self-driving tidak ada di bayangan sosok tunanetra penemu cruise control — Ralph Teetor — ketika Ia mengerjakan penemuannya di 1948”

    Ralph Teetor (kanan) dengan Cruise Control di tangannya, bersama William Prossner (Presiden Perfect Circle) di tahun 1957


    Kisah mengenai sosok tunanetra inspiratif di balik hadirnya fitur cruise control pada kendaraan ini mungkin sudah cukup populer dan ‘dikhatami’ para penggemar otomotif. Ralph Teetor kehilangan pengelihatannya di masa kecilnya ketika beliau berusia 5 tahun.

    Meski kehilangan indera pengelihatan, hal ini justru memberi beliau ketajaman pada indra lainnya. Seperti cerita ikonik yang jadi permulaan penemuan cruise control, yakni ketika Teetor berkendara dengan pengacaranya yang memegang kendali setir. Teetor merasa tidak nyaman dengan laju yang tidak stabil selama berkendara. Pengacaranya cenderung menyetir dengan laju yang lambat ketika berbicara, dan laju mencepat ketika Teetor yang berbicara.

    Pernyataan yang kurang lebih sama keluar dari mulut anak perempuannya, Marjorie Teetor Meyer, “indra peraba Ayah legendaris. Tangannya adalah matanya”. Bahkan cucunya, Ralph Meyer, menambahkan dengan bercerita tentang kebiasaannya menunjukkan mainan favoritnya--yang kemudian akan diraba Teetor-- kepada kakeknya itu di pagi natal.

    Pula dari kesaksian keluarganya, Teetor terbiasa menelusuri sendiri Hagerstown dan merasakan sudut kota lewat gema halus yang dihasilkan dari tabrakan antara sepatunya dengan jalanan. Beliau juga biasa menghitung langkah dari lokasi yang dirasa familiar.

    Tidak hanya indra peraba, indra penciuman dan pendengarannya juga luar biasa. Dengan indra penciuman ia bisa tahu akan ada kuda yang lewat dan dengan indra pendengaran, ia selalu sadar benar dengan kendaraan yang berlalu-lalang di sekitarnya.

    Riwayat “Breaking the Walls”

    Menjadi tunanetra lantas tidak menghambat Teetor dalam menjalani kesehariannya, bahkan ia dikenal dengan banyak riwayat “meruntuhkan tembok” alias melakukan hal yang--kebanyakan orang kira--mustahil untuk seorang Teetor lakukan.

    Usai lulus dari bangki SMA, Teetor memutuskan untuk menjadi insinyur di era yang untuk mempertimbangkan lamarannya saja kampus manapun menolak. Namun berkat Neva Deardroff -- sepupunya yang merupakan mahasiswa Universitas Pennsylvania-- Teetor akhirnya masuk jurusan teknik mesin. Selanjutnya, Teetor hanya butuh bantuan Neva dalam membaca teks dan tugas tertulis. “Insinyur cerdas berpikir dalam gambar, tidak mudah pikiran-pikirannya direduksi ke dalam kata, dan Ralph Teetor adalah insinyur hebat,” ujar Bill Hammack, Profesor Teknik Kimia dan Biomolekuler yang sudah mengenal bakat Teetor di aspek inovasi.

    Usai kuliah, Teetor merancang proses terobosan keseimbangan turbin uap yang dinamis di kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat. Kemudian ia menjadi insinyur utama di perusahaan cincin Perfect Circle dan bahkan berakhir dengan posisi presiden perusahaan tersebut.

    Penemuannya dipatenkan


    Lembar hak paten milik Ralph Teetor 

    Tidak sebentar waktu yang dihabiskan untuk mengutak-atik penemuannya, kurang lebih satu dekade sebelum akhirnya ia memperoleh hak paten di tahun 1948. Cruise Control debut di mobil Chrysler Imperial, New Yorker, dan Windsor di tahun 1958 sebelum akhirnya jadi fitur standar pada semua mobil Cadillac. 

    Meninggal di tahun 1982, enam tahun kemudian namanya masuk Automotive Hall of Fame.