•   Story  
  • Arogansi Klub Motor Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial


    Tidak sekali dua kali masyarakat mengalami sikap arogan dari anggota klub motor saat menggunakan jalan, stigma negatif ini memang sejalan dengan realitanya. Ternyata, hal ini sudah terjadi sejak nama Indonesia masih Hindia Belanda!

    Beberapa waktu lalu, Indonesia dikejutkan dengan berita pengeroyokan TNI oleh anggota klub moge (motor gede). Tidak hanya dikeroyok, bahkan korban juga diancam akan ditembak. Polisi yang saat itu menjadi pihak ketiga untuk melerai malah hampir kena pukulan dari anggota klub moge tersebut.

    Bukan desas-desus baru perihal stigma negatif yang melekat pada klub motor, terutama moge. Meskipun tidak semua klub motor ataupun moge punya perilaku yang buruk, beberapa memiliki sikap positif dalam berlalu lintas.

    Usut punya usut, stigma negatif ini tidak tumbuh dengan sendirinya melainkan berdasarkan realita sejak zaman kolonial dulu. Tahun 1893 adalah kali pertama hadirnya motor di Indonesia. Kemudian perkembangan motor di Indonesia yang saat itu bernama Hindia Belanda terjadi di tahun 1900-an. Mayoritas pemilik motor adalah orang-orang Belanda dan Eropa dan mereka membentuk klub motor yang dikenal dengan nama Magneet pada tahun 1913.


    Image source: Carmudi

    Budaya touring di Indonesia lahir dari Magneet ini. Tak hanya itu, budaya arogan di jalanan juga bermula dari Magneet. Masyarakat banyak dirugikan oleh klub motor ini dari kecelakaan-kecelakaan yang disebabkan oleh mereka seperti menabrak gerobak, pasar, hewan, dan bahkan menabrak seorang pengendara sepeda hingga tewas.

    Di beberapa kesempatan saat touring, secara spontan Magneet mengadakan balapan sebagai simbol raja jalanan. Balapan ii sering menimbulkan kecelakaan lalu lintas yang sering diwajarkan oleh masyarakat setempat.

    Dilansir dari Otosia, persoalan mengenai arogansi pada klub motor dianalisa secara psikologis oleh Psikolog Kasandra Putranto. Ada dua alasan mengapa sikap arogan dapat meningkat ketika melakukan agenda bersama yang dilakukan klub motor, yakni:

    1. Moge termasuk dalam golongan motor dengan harga yang cukup tinggi, sehingga hal ini dapat menumbuhkan perasaan sebagai bagian dari komunitas yang berasal dari kalangan atas.
    2. Jumlah yang banyak juga mempengaruhi arogansi seseorang. Berada di jalan dengan jumlah yang banyak menimbulkan perasaan lebih superior dibanding pengendara lainnya.


    Image source: Otosia

    Oleh : Essie Tiara Bethamonka 

    Sumber: Carmudi.co.id Otosia.com